Kilmury Melawan Keterisolasian – Ambon Ekspres
Metro Manise

Kilmury Melawan Keterisolasian

SAHDAN FABANYO/AMEKS KESENJANGAN : Mahasiswa dan LSM melakukan aksi unjuk rasa di depan Gong Perdamian Dunia terkait minimnya perhatian pemerintah soal kesejahteraan bagi warga Kecamatan Kilmury Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Selasa (27/3).

AMEKS ONLINE, SBB.—Kecamatan Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) masih jauh dari sentuhan pembangunan. Berbagai upaya dilakukan untuk menarik perhatian pemerintah. Namun sejauh ini masih belum ada hasilnya.

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam beberapa organisasi dan LSM melakukan aksi unjukrasa, terkait masalah infrastruktur di Kecamatan Kilmury yang sampai saat ini, tidak pernah diperhatikan pemerintah. Aksi berlangsung di depan Gong Perdamain Dunia dan DPRD Maluku, Selasa (27/3).
Pendemo menuding Pemkab SBT dan Pemprov Maluku maupun pemerintah pusat termasuk DPRD tidak pernah memperhatikan masalah tersebut. Padahal, aksi demo ini bukan baru pertama kali dilakukan.

Aksi ini sudah berulang kali dilakukan, namun pemerintah seakan acuh dengan masalah keterisolaisian yang terjadi di Kilmury saat ini. “72 tahun Kilmury di marjinalkan oleh pemerintah daerah, maupun wakil rakyat termasuk pemerintah pusat. Aksi ini merupakan peringatan satu tahun Save Kilmury yang tidak pernah diperhatikan pemerintah.

Padahal aksi tersebut sudah dilakukan berkali-kali, tetapi tidak ada realisasi apapun. Pemda hanya beralasan keterbatasan anggaran,” teriak Acim, salah satu perwakilan dari organisasi PMKRI Kota Ambon.

Sekra pukul 13.00 Wit, para pendemo kembali melanjutkan aksi di kantor DPRD Maluku.
Ibrahim Kuwairumaratu selaku anak adat Kilmury mengatakan, masyarakat Kilmury selama ini, tidak lagi dianggap sebagai warga Indonesia oleh pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat.

Ini terbukti dengan tidak ada perhatian untuk masalah pembangunan di daerah itu. Dia juga mempertanyakan kehadiran tiga anggota DPRD Maluku dari dapil Kabupaten SBT, yakni Raad Rumfot (Gerindra), Ridwan Elys (PKS), dan Nurlaila Salampessy (PKB) yang tidak pernah memperhatikan masalah tersebut untuk diperjuangkan.
“Mana ketiga anggota DPRD kita dari SBT Mereka buat apa saja di gedung ini, sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk Kilmury yang sudah terisolasi puluhan tahun. Jangan jadi wakil rakyat jika tidak bisa memperjuangkan hak rakyat. Terutama Raad Rumfoot, yang merupakan anak adat Kilmury,” teriak Ibrahim di depan kantor DPRD Maluku.

Aksi berlangsung selama 30 menit. Para pendemo akhirnya ditemui oleh dua anggota DPRD Maluku, yakni ketua Komisi D Saadiyah Uluputty dan anggota Komisi C, Saudah Tuankota Tethool.
Kedua srikandi DPRD Maluku ini mempersilahkan para pendemo masuk dan dilakukan pertemuan guna membahas persoalan Kilmury.

Ketua Lembaga Nanaku, Usman Bugis dalam pertemuan itu mengatakan, Kilmury selama 72 tahun gelap gulita tanpa listrik. Padahal sudah ditetapkan menjadi kecamatan.

Selain itu, pendidikan dan kesehatan juga menjadi masalah di daerah itu. ‘’Untuk pendidikan, anak-anak harus berenang kali ketika ke sekolah. Meski dengan kondisi dingin di waktu pagi, para siswa rela membuka seregamnya asalkan tepat waktu untuk tiba di sekolah. Sedangkan untuk kesehatan, tidak ada satupun Puskemas di Kecamatan Kilmury sehingga sulit bagi warga ketika melahirkan maupun yang sakit parah,’’ ungkap dia.

Akibat tidak ada sarana kesehatan, masyarakat yang sakit harus dibawa ke Puskesmas Geser mengunakan angkutan laut hingga empat jam. Tentu ini sangat menyulitkan. ‘’Banyak ibu-ibu di Kilmuri, yang melahirkan di tengah laut saat dalam perjalanan menuju puskesmas,’’ terang dia.
Itupun kata dia, tergantung dari kondisi alam. Jika pada musim ombak warga hanya pasrah, karena tidak ada akses jalan darat menuju Geser. “Kilmury ini kecamatan yang terdiri dari 14 desa dan 23 dusun. Herannya, sampai saat ini tidak ada listrik. Ibukota kecamatan gelap gulita saat malam hari,” jelasnya.

Menyikapi hal itu, Saadiyah Uluputty mengatakan, persoalan pembangunan di Maluku menjadi masalah bersama untuk diperhatikan. Dia mengaku, sejauh ini DPRD telah melakukan terobosan-terobosan masalah pembangunan ke pemerintah pusat, ketika melakukan penyampaian aspirasi. Karena daerah memang terkendala dengan anggaran.

Namun, lanjut dia, sejauh ini Maluku terkesan masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah pusat untuk masalah pembangunan. Anggaran yang dikucurkan juga tidak sesuai dengan karakteristik wilayah Maluku.
‘’Padahal Maluku termasuk salah satu dari delapan provinsi yang turut memerdekakan Indonesia. Tetapi sama sekali tidak diperhatikan. Pemerintah pusat hanya jadikan Maluku sebagai wacana saja, terkait dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Namun dari sisi anggaran untuk kemajuan pembangunan diabaikan,’’ tegas dia.

Uluputty menandaskan, Kilmury menjadi masalah bersama untuk terus diperjuangkan. Terutama untuk pendidikan dan kesehatan. ‘’Itu menjadi kewenangan kami di komisi D yang membidanginya. Setelah ini kami akan melakukan pertemuan dengan Dinas Pendidikan Provinsi untuk membicarakannya. Saya juga berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa dan LSM yang merupakan tiang penyangga bagi DPRD, dalam menerima berbagai masalah di masyarakat,” kata Uluputty.

Sementara Saoda Tuankota Tethool mengaku sangat prihatin dengan masalah tersebut. Dia meminta masalah pembangunan Maluku termasuk Kilmury untuk dapat perhatian serius. Bila perlu dilakukan aksi besar-besaran agar pemerintah memperhatikan daerah itu.
Srikandi asal Gerindra ini juga memberikan penegasan kepada para pendemo untuk menyurati pimpinan DPRD secara resmi guna membahas masalah tersebut, agar bisa tersampaikan secara formal ke pemerintah pusat. “Saya kira apa yang dilakukan teman-teman save Kilmury hari ini (kemarin) merupakan langkah yang sangat tepat agar mendapat perhatian pemerintah, termasuk kami di DPRD.

Karena ini masalah infrastruktur yang memang tidak pernah diperhatikan. Kondisi seperti ini, bagi saya harus dilakukan aksi besar-besaran dengan menutup bandara maupun pelabuhan sebagai pintu masuk, agar bisa menjadi sorotan oleh oleh pemerintah pusat, untuk masalah anggaran ke Maluku,” pungkas Tethool .

Pantauan koran ini, mereka yang tergabung dalam aksi itu, terdiri dari Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) serta LSM Nanaku. (WHB)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top