Menilik Brondongan, Kampung Para Peracik Rebung Lunpia – Ambon Ekspres
Features

Menilik Brondongan, Kampung Para Peracik Rebung Lunpia

Aroma khas rebung tercium kuat dari pintu masuk sebuah rumah di RT 08/RW 03, Kampung Brondongan, Kelurahan Kebonagung, Semarang Timur. Di dalamnya, nampak dua pekerja tengah sibuk merajang (memotong kecil-kecil) bahan dasar isian lunpia itu.

Zainal Abidin, seorang pekerja di rumah itu, mengatakan sedang mengerjakan pesanan rebung saat ditemui di lokasi belum lama ini. Pria asli Mranggen, Demak itu mengaku tengah mendapat pesanan dari salah satu toko lunpia di Gang Lombok, kawasan Pecinan, Semarang.
“Sehari memang biasanya dapat pesanan sekitar dua kuintal lebih,” katanya.

Tumpukan rebung yang ada di hadapan Zainal adalah bahan baku isian lunpia, dimana rebung atau tunas bambu muda tersebut didapatkannya dari sejumlah daerah, yakni Mranggen, Magelang, juga Wonosobo.

Proses awal, kata Zainal, rebung dimasukan ke dalam sebuah wadah untuk difermentasi selama satu bulan penuh. Kemudian, rendaman rebung dibilas dan diperas untuk mengeluarkan kandungan getah di dalamnya. “Baru setelah itu dirajang-rajang tipis-tipis sebagai isian lunpia,” cetusnya.

Terlihat di dalam ruangan itu, tak satu pun alat atau pun mesin rajang untuk mencacah rebung tadi. Zainal mengaku, segala proses pembuatan bahan isian lunpia, termasuk merajang dilakukannya dengan tangan sendiri alias manual.
“Ya kaya dimana orang-orang bilang, yang manual lebih terasa. Pakai tangan kosong seperti ini lebih maksimal hasilnya daripada pakai mesin modern. Hasilnya atau cetakannya kadang tidak sesuai seperti yang diinginkan,” sambungnya.

Ia sendiri mematok harga untuk tiap kilogram rebung hasil olahannya senilai Rp 10 ribu. Dirinya yang sudah 15 tahun menekuni usaha macam ini, mengaku masih ada sekitar belasan warga setempat yang menggeluti bisnis serupa.

Lewat pengakuannya, warga lain menjual hasil rebung racikan mereka seharga Rp 5-15 ribu per kilogram. “Tergantung pesanannya sebenarnya, kan beda-beda juga toko yang pesan sama mereka meraciknya pakai apa, mesin atau tidak,” katanya lagi.

Rebung olahan warga setempat, menurutnya, laris dipesan para pedagang lunpia di seantero kota Atlas. Untuk akhir pekan, pesanan bisa melonjak seiring meningkatnya penjualan kuliner khas Semarang itu dibanding kondisi hari biasa, yang kata Zainal maksimal hanya dua ribuan biji saja.

Geliat pembuatan rebung sebagai isian lunpia di Brondongan sendiri, ternyata tak lepas dari bisnis lunpia yang diawali dari daerah tersebut. Ialah Mbok Warsi, perempuan perintis usaha lunpia di Brondongan.

Subiyanto, Lurah Kebonagung mengatakan keahlian Mbok Warsi membuat lunpia didapat dari suaminya yang masih keturunan Thionghoa. Usaha yang diawali sejak puluhan tahun silam ini pun sekarang sudah beranak-pinak, dimana katanya banyak pemilik toko yang menamai usahanya sebagai cabangnya.
“Setelahnya, baru muncul generasi pertama yang mempelopori penjualan lunpia di Semarang. Kami tentu senang Brondongan dikenal sebagai cikal bakal Lunpia sampai akhirnya didapuk sebagai Kampung Edukasi Lunpia,” katanya.

Subiyanto menjelaskan, kampung Brondongan telah dinobatkan sebagai kampung tematik edukasi lunpia sejak Oktober 2017 lalu. Dipilihnya tempat tersebut, lantaran asal muasal lunpia dari kampung Brondongan.

Adapun, kata dia sebelumnya kampung edukasi lunpia dicanangkan di lokasi lain. Namun akhirnya ditetapkan di Kampung Brondongan, karena penelitian menyebut wilayah itulah asal muasal lunpia dibuat.
“Selanjutnya kampung tematik edukasi lunpia ini terus dikembangkan menjadi kampung tujuan wisata. Saat ini masih terus berjalan, dengan memberdayakan masyarakat, membuat pelatihan terlebih dahulu kepada warga,” terangnya. Pelatihan yang dimaksud, meliputi, produksi, pemasaran dan manajemen.
Subiyanto menjelaskan ada 15 warga yang tersebar di tiga RT yang rutin membuat rebung. “Pembuat rebung skala besar ada tiga, yang lainnya kecil-kecil untuk pedagang kaki lima,” ungkapnya.

Kampung Edukasi Lumpia diharapkan mampu mengubah citra kawasan setempat yang sebelumnya dikenal kumuh, sekaligus mendongkrak kesejahteraan warga setempat. Ia ingin Brondongan nantinya bisa menarik minat wisatawan untuk mengenal mendalam pembuatan lumpia.
“Kami sudah membentuk pengurus untuk mempromosikan sentra pembuatan lumpia. Wisatawan bisa melihat pembuatan rebung sampai menggulung kulit lumpia,” bebernya
Ketua RT setempat, Agus Istiyono menambahkan kampung tematik edukasi lunpia berada di tiga lokasi. Yakni RT 06, 07, dan 08. Masih ada pemberdayaan yang akan dilakukan sebelum kampung edukasi lunpia benar-benar siap untuk pengunjung.
“Di sini disiapkan show room, di bekas kantor kelurahan lama. Nanti dipakai untuk pameran. Pengunjung yang datang langsung ditujukan ke lokasi itu,” imbuhnya.(gul/JPC)

Most Popular

To Top