Persaingan Ketat SANTUN-HEBAT – Ambon Ekspres
Berita Utama

Persaingan Ketat SANTUN-HEBAT

Malteng, Ambon, SBB Jadi Penentu

AMEKS ONLINE, AMBON.—Pasangan Said Assagaff-Anderias Rentanubun dan Herman Adrian Koedoboen-Abdullah Vanath diprediksi akan bersaing ketat merebut suara pemilih. Pengalaman bertarung dan ketatnya perolehan suara pada Pilgub 2013 menjadi indikator utama.

Prediksi ini disampaikan Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes dalam diskusi Pilkada Berintegritas di Hotel Santika, Rabu (25/4). “Pilgub Maluku ini ketat, karena ada dua kandidat yang memiliki perolehan suara yang ketat pada Pilkada sebelumnya (2013), yaitu, pak Abdullah Vanath dan Herman. Selisih suara dua figur ini dengan Said Assagaff juga cukup kecil,” kata Arya.

Pada Pilgub Maluku 2013, Said Assagaff, Herman Koedoeboen dan Abdulllah Vanath merupakan calon gubernur.

Kala itu, Abdullah Vanath berpasangan dengan Marthin Jonas Maspaitella. Dari data resmi KPU Maluku, pasangan ini keluar sebagai pemenang pada putaran pertama dengan memperoleh 205.586 suara.

Posisi kedua ditempati pasangan Said Assagaff-Zeth Sahuburua dengan mengantongi 198.428 suara atau hanya selisih 7.158 suara. Pasangan ini menang di Kabupaten Buru (38.128 suara) dan Buru Selatan (18.097). Namun, Said-Zeth juga mendapatkan suara signfikan di daerah-daerah lainnya.

Sementara itu, meski secara keseluruhan sebagai pemenang ketiga, tapi pasangan Herman Adrian Koedoeboen-Daud Sangadji berhasil unggul di enam daerah. Yakni, Maluku Tenggara (24.524 suara), Kota Ambon (53.315 suara) Tual (12.344 suara), Kepulauan Aru (15.740 suara), Maluku Barat Daya (21.794 suara) dan Maluku Tenggara Barat (18.090 suara).

Dari akumulasi perolehan suara lima paslon kala itu, hanya Vanath-Marthin (DAMAI) dan Said-Zeth (SETIA) lolos ke putaran kedua. Hasil pemilihan putaran kedua menunjukkan pasangan SETIA keluar sebagai pemenang dengan mengantongi 389.884 suara (50,4 persen). Berselisih tipis dengan raihan suara DAMAI, yakni 383,705 (49,6 persen) atau sekitar 6.179 suara.

Menariknya, mayoritas pemilih Herman di lima daerah justru berpaling ke pasangan SETIA, yakni Ambon 82.242 suara, DAMAI 56.285 suara, Malra SETIA 22.974 suara, DAMAI 17.716 suara, Kota Tual SETIA 16.437 suara, DAMAI 10.435 suara, MTB SETIA 23.231 suara, DAMAI 13.926 suara dan   MBD SETIA 17.478, DAMAI 15.703 suara.

Di sisi lain, pasangan DAMAI mampu meraup 101.349 suara di Maluku Tengah, dan SETIA 82.852 suara. DAMAI juga menang di SBB dengan 55.553 suara, SETIA 41.558 suara, SBT DAMAI 62.296, SETIA 16.652 suara, dan Aru DAMAI 19.181 suara, dan SETIA 15.235 suara.

Menurut Arya, kembali majunya Herman yang berpasangan dengan Vanath akan memperketat kontestasi politik lokal lima tahunan. Apalagi di sisi lain, Said menggandeng Anderias Rentanubun, Bupati Maluku Tenggara sebagai wakilnya. “Sekarang pak Herman dan Vanath ini bertemu dan bergabung menjadi calon independen. Ini ketat. Karena pertama, dari sisi suara Said Assagaff, Herman dan Vanath selisih beberapa persen. Sedangkan Herman dan Vanath gabung jurus,” papar peneliti Departemen Bidang Politik dan Perubahan Sosial CSIS itu.

Arya tidak memprediksi secara kuat, peluang kemenangan Pilgub 27 Juni nanti, baik pasangan Said-Anderias (SANTUN), Herman-Vanath (HEBAT) atau pendatang baru di Pilgub, pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno (BAILEO). Tetapi, peluang menang ada pada pasangan SANTUN dan HEBAT, karena memiliki modal elektoral.

“Bagaimana dengan kandidat pak Murad– Barnabas, dugaan saya, karena kebetulan CSIS tidak melakukan survei di sini, tapi berdasarkan data-data elektoral ini, dugaan saya pertarungan akan mengerucut pada dua sosok, yaitu pak Said dan pak Herman. Kira-kira begitu, kalau kita lihat dari latar belakang kandidat,” jelas dia.

Disinggung soal hasil survei Media Survei dan Strategis (MSS), media survei lokal di Maluku, menurut Arya elektabilitas pasangan SANTUN sulit terkejar. Pasalnya, ada selisih elektabilitas SANTUN (41,50 persen) dengan HEBAT (25 persen) dan BAILEO (13,40 persen).

Dalam banyak kasus Pilkada, lanjut Arya, petahana akan sulit dikerjar bila selisih elektabilitasnya sudah mencapai 15 persen dengan para penantang. Apalagi, sisa waktu menuju hari pemungutan suara semakin sedikit. “Kalau rentang (elektabilitas) antara kandidat itu di kisaran masih di bawah 15 persen, potensi perubahan dukungan masih bisa terjadi. Tetapi, kalau rentang pendukungnya itu sudah lebih dari 15 persen, itu sulit sekali dikejar. Apalagi waktunya masih dua bulan,” katanya.

Dia menambahkan, HEBAT maupun BAILEO dapat mengejar pasangan SANTUN dengan isu kinerja pemerintahan yang buruk dan cerdas mengeola isu politik identitas. “Kalau misalnya, kinerja diapresiasi secara positif, itu biasanya kandidat petahana tidak punya peluang untuk diserang. Kalau diapresiasi negatif, kampanye kinerja buruk akan kencang digunakan,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Direktur Parameter Konsultindo Research dan Consultant, Eidoson Lapalelo menilai, elektabilitas 41,50 persen bagi petahana masih rawan. Eddy mencatat beberapa indikator dari pasangan dengan akronim SANTUN yang menurutnya mengalami penurunan.

Antara lain, elektabilitas yang turun dari 62 persen pada survei Desember 2017, menjadi 41,50 persen hasil survei Maret 2018. Jadi, tiga bulan kemudian terkoreksi sampai dengan 20,5 persen. Kemudian, tingkat kepuasaan terhadap kinerja Said 75 persen pada Desember 2017, hanya 67,93 persen pada Maret 2018.

Begitu pula dengan tingkat keberhasilan yang mendapat 76,70 persen pada Desember, turun menjadi 69,9 persen. Artinya, sebanyak 7,40 persen responden menyatakan sudah tidak puas lagi dengan kinerja Assagaff dalam rentang tiga bulan terakhir.

Popularitas Assagaff juga berkurang menjadi 91.40 persen, dari sebelumnya 94,50 persen. Trend penurunan ini membuat posisi pasangan yang diusung oleh Partai Golkar, Demokrat dan PKS belum aman dan rentan. Hal ini disebabkan sejumlah alasan.

Pertama, berpindahnya sekitar 20,5 persen elektabilitas pasangan SANTUN ke pasangan Herman Adrian Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT). Hasil survei tiga bulan lalu, elektabilitas SANTUN 62 persen, HEBAT nol persen.

Kemudian, sekitar 3,9 perssen elektabilitas pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno (BAILEO) ke pasangan HEBAT. Survei tiga bulan lalu, elektabilitas BAILEO 17,30 persen. Namun, sekarang turun menjadi 13,40 persen. “Kala itu, hasil rilisnya (MSS) Desember 2017, SANTUN itu 62 persen. Tetapi, data survei per Maret 2018, hanya 41,50 persen. Kalau kita baca trends survei ini, menurut saya, riskan dan rawans,” jelas Lapalelo, seperti diberitakan Ambon Ekspres, Selasa (27/3).

TIGA DAERAH PENENTU
Hal menarik lain yang dikupas Arya, adalah daerah kompetitif Pilgub. Menurut dia, Maluku Tengah, Kota Ambon Seram Bagian Barat merupakan zona kompetitif. Alasannya, ada kandidat yang berasal dari tiga daerah itu. Selain itu, juga memiliki jumlah pemilih terbesar. Berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang telah ditetapkan oleh KPU Maluku, jumlah pemilih Maluku Tengah 288.557, Ambon 207.058 dan Seram Bagian Barat 143.229 pemilih.

Sehingga menurut dia, kemenangan paslon, khusus di Malteng dan Kota Ambon sangat ditentukan oleh arah politik Abdullah Tuasikal maupun Richard Louhenapessy. Selain itu, tergantung metode dan isu kampanye yang digunakan tim masing-masing pasangan calon.

“Sekarang tinggal di lihat, bagaimana posisi Abdullah Tuasikal dalam konteks ini. Karena bagaimana pun, dia mendapatkan 15,5 persen dan sekarang posisi Maluku dalam tanda petik, tidak bertan karena tidak ada kandidat di sana. Kemana lari suara Pak Abdullah Tuaikal?” demikian Arya.

Diberitakan sebelumnya, pengamat komunikasi politik, Said Lestaluhu menilai, penobatan zona satu (Ambon, Malteng, SBB dan SBT) sebagai zona sengit, cukup beralasan. Dari aspek jumlah pemilih, terbanyak di empat daerah itu.

Selain itu, pemilih di empat daerah itu juga rawan isu etnis. Terutama isu anak adat Seram di Kabupaten SBT, SBB dan Malteng yang kemungkinan akan dimainkan oleh pasangan Herman-Vanath.
Tetapi, isu seram tidak sertamerta mampu mempengaruh preferensi pemilih seram seutuhnya, baik di SBT, SBB, Malteng maupun di Ambon. Sebab, pasangan SANTUN maupun BAILEO bisa memainkan atau menggunakan strategi lain untuk meraup suara signifikan.

Pasangan SANTUN, lanjut dia, tentu sangat berharap pada Abdullah Tuasikal, mantan Bupati Malteng dua periode yang kini jadi ketua tim relawan pasangan yang diusung oleh Partai Golkar, PKS dan Demokrat itu. Kemudian, ada Mukti Keliobas dan Richard Louhenapessy, yang menjadi jaminan kemenangan bagi SANTUN di SBT dan Ambon.

Sedangkan pasangan BAILEO, bisa menggarap pemilih di Jazirah Leihitu yang jumlah cukup signifikan. Olehnya itu, Lestaluhu berkesimpulan, semua paslon akan bertarung sengit dan memiliki peluang yang sama di zona satu.

Olehnya itu, menurut dia, semua pasangan calon harus mengintenskan kampanye di zona ini. Dan strategi yang maksimal, adalah bertatap muka langsung dengan pemilih. (TAB)

Most Popular

To Top