Istri dan Dua Anaknya Meninggal, Hidup dari Bikin Miniatur Rumah – Ambon Ekspres
Features

Istri dan Dua Anaknya Meninggal, Hidup dari Bikin Miniatur Rumah

BERTAHAN : Putu Ada terpaksa harus tetap bekerja semampunya, membuat miniatur rumah dari stik es krim, agar bisa bertahan hidup di tengah sakit infeksi usus yang dideritanya

Sakit infeksi usus yang dideritanya membuat Putu Ada, 41 tak bisa berbuat banyak. Badannya kurus dan lemah, sudah tak bisa bekerja normal. Namun, tak ada pilihan lain lagi, dan tak mau patah semangat, apalagi masalah ekonomi yang terus menghimpit. Agar tetap bertahan hidup, Putu Ada berusaha mencari sesuap nasi dengan membuat miniatur rumah.

Putu Ada terlihat sangat sibuk membuat kerajinan rumah tangga saat Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (26/4) kemarin, menyambangi rumahnya. Tangannya dengan terampil merakit stik es krim menjadi karya unik dan indah. Ada miniatur rumah serta miniatur jineng (lumbung), yang telah dirampungkannya.

Ya, Putu Ada kesehariannya harus bergelut dengan sakit dan aktivitasnya membuat kerajinan.
Badannya kurus dan lemas membuatnya tak bisa bekerja berat seperti orang normal pada umumnya. Lantaran sakit infeksi usus yang ia derita sejak delapan bulan lalu. Sakit yang dideritanya itu membuat dirinya harus rutin kontrol ke RSUD Buleleng. “Dari keterangan dokter, saya dibilang sakit infeksi usus.

Makanya, berat badan terus menurun. Sekarang harus rutin control,” katanya mengawali pembicaraan.
Pria yang beralamat di Banjar Dinas Kelodan, Desa Ringdikit, Kecamata Seririt ini, hidup bersama sang Ibu, Made Inten, 65, dan seorang adiknya di rumah sederhana. Sang ibu pun hanya seorang penjual kerupuk dengan penghasilan pas-pasan. Praktis, keluarga ini hidup di bawah garis kemiskinan.

Sejatinya, Putu Ada memiliki istri bernama Ketut Diantari dan tiga orang anak. Namun, malangnya sang istri lebih dulu menghadap Tuhan sekitar delapan bulan lalu, karena hepatitis. “Istri saya sudah meninggal. Sekitar 8 bulan lalu. Karena sakit Hepatitis. Saat itu usia anak ketiga saya baru berumur sebulan,” ungkapnya lirih. Penderitaannya tak berhenti di sana. Kedua anaknya juga meninggal dunia. Anak pertamanya meninggal sekitar tujuh tahun silam, saat baru menginjak usia empat bulan. Sedangkan anak keduanya yang baru berusia lima tahun, juga meninggal sekitar empat bulan lalu karena demam berdarah.

Lalu, anak ketiganya, Komang Bima Ganendra yang baru berusia 10 bulan, kini terpaksa dirawat saudara sepupunya, karena Putu Ada sudah kelimpungan dengan keadaannya saat ini. “Anak ketiga saya titipkan di sepupu. Keseharian hanya bisa membuat miniatur. Saya sudah tidak bisa kerja berat. Kondisi sakit, badan sering lemas,” ucap Putu Ada.

Penghasilannya pun tak seberapa. Putu Ada hanya mampu membuat miniatur rumah paling banyak tiga unit dalam sebulan. Satu karya miniaturnya ia hargai Rp 150 ribu. Itu pun dibuat karena ada pesanan. Kalau tidak ada pesanan, ototmatis Putu Ada hanya bisa berdiam diri. Itu berarti Putu Ada hanya mengantongi upah Rp 450 ribu dari hasil penjualan karyanya. Penghasilannya itu pun belum termasuk modal untuk beli stik es krim sebagai bahan baku.

Putu Ada mengaku, selain dijual secara langsung, kadang dirinya memasarkan hasil jerih payahnya di media sosial. Tak hanya itu, beberapa temannya juga turut membantu menjualkan hasil karyanya, agar bisa segera mendapatkan uang untuk bertahan hidup.

Saat ditanya terkait bantuan dari pemerintah, Putu Ada tak menampik jika dirinya mendapat bantuan sembako dari Dinas Sosial Kabupaten Buleleng. Hanya saja, sembako tersebut tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama sebulan. Selain itu, beberapa relawan juga kerap membantunya meringankan beban himpitan ekonomi yang kian sulit.

“Selama ini ada bantuan dari Dinas Sosial Buleleng, berupa sembako, tapi tak mencukupi. Beruntung Ibu saya berusaha jualan krupuk, untuk menambah penghasilan,” keluhnya.

Lalu, bagaimana pengobatannya? Putu Ada mengaku sudah memiliki Jaminan KIS Kelas III untuk berobat. Namun, selama ini ia justru terkendala biaya transportasi. Sebab, Putu Ada tidak memiliki kendaraan yang dipergunakan untuk berobat ke RSUD Buleleng. Dalam sebulan, Putu Ada bisa berobat hingga tiga kali ke RSUD Buleleng.
“Uangnya habis pakai sewa ojek saja. Kadang sekali berobat itu kena ongkos transport bisa Rp 100 ribu. Di mana saya bisa dapat uang sebanyak itu. Apalagi penghasilannya tidak seberapa karena untuk makan saja tidak cukup,” imbuhnya.

Putu Ada berharap ada donatur yang bersedia membantunya kendaraan agar bisa dipakai untuk berobat. “Kalau bisa dibantu itu (motor). Biar ada dipakai pergi berobat. Karena lebih berat ongkos ojeknya,” tutupnya. (bx/dik/yes/JPR)

Most Popular

To Top