HEBAT : Pengaruh PDIP di Ambon Hanya Mitos – Ambon Ekspres
Politik

HEBAT : Pengaruh PDIP di Ambon Hanya Mitos

AMEKS ONLINE, AMBON.—Pasangan Herman Adrian Koedoeboen-Addullah Vanath (HEBAT) sangat yakin akan unggul di Kota Ambon dalam Pilgub Maluku. Pasangan ini yakin meski PDIP yang mengklaim punya basis kuat di kota ini mengusung kandidat lain

Juru bicara pasangan HEBAT, Fajrin Rumaltur mengatakan, pasangan HEBAT sangat berpeluang menang di Kota Ambon. Sebab, menurut dia, pengaruh PDIP terhadap perolehan suara kandidat hanya mitos.

Optimisme kemenangan pasangan HEBAT di Ambon, kata Fajrin, berdasarkan beberapa alasan. Antara lain, kefiguran Herman Koedoebeon yang merupakan pemenang pertama pada Pilgub Maluku 2013 masih kuat.

Pada Pilgub lima tahun lalu, Herman yang berpasangan dengan Daud Sangadji berhasil meraih suara terbanyak, yani 53.312 dari empat pasangan calonnya. Kala itu, pasangan Herman-Daud (MANDAT) diusung oleh PDI Perjuangan.

Apalagi, Herman kini berpasangan dengan Abdullah Vanath, pemenang ketiga di Kota Ambon pada Pilgub 2013 dengan 31.929 suara. “Argumennya sederhana. Pada Pilgub 2013 lalu pak Herry (Herman Adrian Koedoeboen) merupakan pemenang pertama dengan perolehan dukungan suara terbanyak di Kota Ambon.

Sedangkan pak Vanath adalah pemenang ketiga. Saat ini dua kekuatan politik ini telah bergabung, maka peluang kemenangan HEBAT di Kota Ambon hampir bisa dipastikan,” kata Fajrin, Selasa (15/5).
Kemenangan MANDAT, itu menurut Fajrin, karena sikap PDIP sejalan dengan aspirasi politik pemilih tradisional mereka. Selain itu, figur Herman dianggap beritegritas.

Basis pemilih keduanya di Kota Ambon juga masih sangat solid dan terkonsolidasi. Ditambah lagi dengan kerja-kerja tim pemenangan HEBAT yang masif dilapangan.

“Dan ini tidak ada urusannya dengan PDIP. Kemenangan MANDAT di Kota Ambon tempo hari sangat dipengaruhi figuritas Herman Adrian Koedoeboen yang dianggap memiliki kapasitas dan kompetensi yang layak untuk memimpin Maluku,” paparnya.

Variabel PDIP, lanjut Fajrin, sangat kecil pengaruhnya atas kemenangan MANDAT saat itu. Preferensi pemilih di kota sangat dipengaruhi oleh variabel calon, bukan variabel kendaraan politik pendukung. “Di kota pemilih rasional sangat besar, dan preferensi mereka ditentukan oleh kekuatan figuritas, visi-misi dan program aksi yang ditawarkan oleh pasangan calon. Singkatnya pilkada itu person ID, bukan figur ID, ini fakta politik,” jelasnya.

Pengaruh PDIP terhadap perolehan suara pasangan calon yang tidak signifikan itu, dapat diukur dengan pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ambon 2017. Saat itu PDIP kalah dengan kaolisi jumbo, yakni Demokrat, Gerindra, Hanura, PBB, PKB, PAN, dan PKS kalah.

Sedangkan Golkar yang berkoalisi dengan Nasdem dan PPP mengusung pasangan Richard Louhenapessy dan Syarif Hadler. Pasangan ini menang, dengan memperoleh 82.307.
Sedangkan pasangan Paulus Kastanya dan Muhamad Armyn. S. Latuconsina, yang diusung PDIP, Demokrat, Gerindra, Hanura, PBB, PKB, PAN, dan PKS memperoleh 68.289 suara.

“Bagaimana menguji kebenaran argumentasi tersebut ? Pengalaman terdekat yaitu Pilkada Kota Ambon, menunjukan kebenaran tesis saya. PDIP dan koalisi beberapa parpol tidak berhasil memenangkan pasangan calon yang mereka usung,” terang dia.

Sehingga bagi Fajrin, pengaruh PDIP atas perolehan suara pasangan calon yang diusung hanya mitos. “Jadi, pengaruh PDIP dalam meraup dukungan suara di Kota Ambon hanya mitos yang terus menerus diwacanakan dalam perbincangan politik Pilkada Maluku hari ini,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, PDIP Kota Ambon telah memasang target BAILEO menang di Kota Ambon. Kader partai di jajaran struktural dari kota hingga desa, sudah bekerja dan terus mengawal basis.

“Semua sudah mendapatkan mandat dari DPP untuk memenangkan pemilihan gubernur tahun ini di setiap kabupaten/kota. Sehingga amanah ini tidak bisa lagi ditawar pada kader PDI Perjuangan pada umumnya. Maka wajib hukumnya bagi kami di tingkat DPC Kota Ambon untuk menangkan BAILEO. Dan kami sangat yakin, akan menangkan BAILEO di Kota Ambon,” tegas Ketua Bidang Organisasi DPC PDIP kota Ambon, Lucky Upulatu Nikyuluw kepada awak media di Balai Rakyat DPRD Ambon, Rabu (4/4).

Tetapi, Golkar mengangap optimisme PDIP ini hanya sebatas klaim. Indikator yang dikemukakan lemah. Dari sisi infrastruktur, Golkar dan PDIP memiliki kekuatan yang seimbang.

“Tapi, dalam mengklaim itu tentu ada indikator-indikator pendukung. Minimal, ada kajian ilmiah tentang itu. Salah satu faktor, bukannya kami merendahkan teman-teman PDIP, kita punya infrastruktur yang sama pada level bawah, pada tingkat kecamatan, desa dan kelurahan,” kata Hairuddin Tuarita, wakil Ketua DPD Partai Golkar Maluku ketika dimintai tanggapan soal klaim PDIP, Kamis (5/4).

Sedangkan, indikator suprastruktur politik Golkar, jauh lebih unggul dari PDIP. Golkar memiliki tokoh dan kader partai seperti Walikota Ambon, Richard Louhenapessy dan gubernur non-aktif, Said Assagaff yang diusung oleh Golkar, Demokrat dan PKS sebagai calon gubernur berpasangan dengan Anderias Rentanubun yang singkat SANTUN.

“Kami punya suprastruktur lebih unggul. Kita punya tokoh-tokoh, semisal walikota, gubernur yang semuanya adalah kader-kader Golkar. Yang mana sudah dikenal sampai ke seluruh lapisan masyarakat,” papar juru bicara pasangan SANTUN ini.

Selain itu, pasangan SANTUN bersama parpol koalisi juga telah melakukan konsolidasi massif di kota Ambon. Di sisi lain, figuritas Said dan Andre dinilai telah disukai pemilih di kota ini.

Olehnya itu, ia yakin, Golkar akan mengulangi kemenangan 2017 pada Pilgub 2018 ini. Pilwakot Ambon 2017, Golkar yang berkoalisi dengan Nasdem dan PPP mengusung pasangan Richard Louhenapessy dan Syarif Hadler.

“Fakta, PDIP juga kalah di kota (Ambon) pada 2017. Jadi, kami yakin sungguh berdasarkan fakta 2017 juga, kami bisa memenangkan pertarungan itu, meski PDIP mengklaim (Kota Ambon) sebagai basisnya,” tandasnya.

Tak hanya Golkar, dukungan Partai Demokrat dan PKS semakin menambah kekuatan dan peluang menang pasangan dengan nomor urut 1 itu. Sehingga, tidak beralasan SANTUN kalah di ibukota provinsi Maluku. (TAB)

Most Popular

To Top