Transaksi Haram Proyek Aspirasi – Ambon Ekspres
Ragam

Transaksi Haram Proyek Aspirasi

 

AMBON, AE.- Dana aspirasi tiap anggota DPRD kerap menjadi kedok, wakil rakyat menggarap proyek. Nilainya juga cukup besar. Tiap anggota DPRD Kota Ambon bisa dijatahi Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Sementara pimpinannya bisa menembus angka Rp3 miliar. Ini dianggap biasa, dengan dalil aspirasi rakyat.

Kasus Leonora Far Far, anggota DPRD dari Fraksi PDIP membuka mata publik, kalau transaksi proyek di gedung DPRD dilakukan terbuka. Motif mereka, negosiasi fee, setelah usulan aspirasi diterima pemerintah dan disahkan DPRD dalam APBD. Patokan fee biasanya 10 persen dari nilai proyek.

Korban Leonora, adalah Rino Jery Abel. Dia dijanjikan proyek senilai Rp600 juta di Desa Tawiri. Proyek itu akan diberikan ke Abel, bila dia sudah menyetor dana sebesar 10 persen dari nilai proyek. “Saya menyetor Rp60 juta rupiah,” kata Abel dalam beberapa kesempatan.

Mirisnya, duit segepok itu diserahkan Abel kepada Leonora di pelataran gedung DPRD Kota Ambon. Transaksi dilakukan dalam mobil pribadi milik politisi wanita asal PDIP itu. Semua berjalan normal. Leonora sepakat, Abel juga senang.

Masalah muncul, setelah Abel mengetahui proyek itu sudah dikerjakan kontraktor lain. Abel marah, dia kemudian menghubungi Leonora. Jawaban Leonora tak membuat Abel puas. Kepada pers dia membeberkan kejahatan yang dilakukan Leonora.

Tak puas, kasus ini dilaporkan ke Polres Ambon dengan pidana penipuan. “Saya merasa di tipu oleh oknum anggota DPRD Kota Ambon ini. Katanya mau mengantikan uang saya Rp 60 juta, mana.?. Proyek yang di janjikan tak jelas karena dikerjakan orang lain. Sudah begitu uang saya sampai saat ini belum di kembalikan,” kata dia.

Upaya hukum akhirnya  dilakukan dengan melaporkan Leonora  ke Polres Ambon. Polisi sendiri sudah memanggil Leonora pada tanggal 3 Januari, tetapi dia tidak menghadiri panggilan itu. Merasa tidak puas kontrakotor ini akhirnya mendatangi bagian keuangan DPRD Kota Ambon.

Leonora yang dihubungi tak membantah menerima uang dari Abel. Dengan polos, dia mengaku menjanjikan proyek kepada Abel. Tapi bukan paket proyek 2018. Paket yang dijanjikan itu akan ditenderkan pada 2019. Dia juga mengaku, tender hanya formalitas, karena sudah dicantumkan nama Able pada paket tersebut.

Abel sendiri sempat ingin menyita uang makan minum Leonora sebesar Rp 35 juta di Sekretariat DPRD Kota Ambon. Namun lagi-lagi  Leonora meminta Abel tidak mengambilnya. Alasannya jumlahnya  belum cukup.  Dia berjanji akan menambahkan secepatnya sampai total Rp60 juta baru diserahkan langsung.Ternyata itu  hanya bagian dari janji busuk politisi PDIP itu.

Pengacara muda Jakarta asal Maluku, Azis Talaohu yang dimintai pendapat soal kasus ini, mengatakan bisa jadi transaksi dana aspirasi sudah berlangsung lama. Yang menjadi persoalan hukum, ada suap, dan janji proyek. Suap diberikan Abel, sementara janji proyek disampaikan Leonora.

“Ini kan melanggar hukum. Penyuap dan yang disuap harus diproses hukum. Anggota DPRD Kota Ambon, adalah pejabat Negara. Kontraktor coba menyuap pejabat Negara. Pejabat Negara ini menjanjikan proyek pemerintah. Makanya, jaksa dan polisi harus memeriksa keduanya,” kata Talaohu.(WHB)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top