Komite 1 Mei Di Hari Buruh

by

Ambon, ameksOnline.- Demo mewarnai hari Buruh, Rabu 1 Mei 2019. Aksi tak dilakukan kaum buruh, tapi mahasiswa. Meski jumlahnya kalah dengan aksi buruh biasanya di Pulau Jawa, namun tuntutan mereka tak kalah kerasnya.

Tepat di Gong Perdamaian Dunia, Lapangan Merdeka Ambon, Komite 1 Mei menggelar aksi demonstrant untuk menyuarakan kemerdekaan Hak Buruh.

Puluhan pendemo, menggunakan Megaphone menyampaikan aksi mereka. Aksi dikawal anggota Polisi dari Shabara Polres P Ambon dan Pp Lease. Dihadapan mereka, terdapat sejumlah Pamflet yang bertuliskan , lawan perempatan sumber daya oleh Olgarki Imprealisme dan Neokolonisme.

Naikan Upah Buruh, cabut PP 78 Tahun 2015 tentang Upah. Pamflet yang dituliskan di atas karton Manila berwarna putih itu, memantik perhatian warga yang melintas. Pendemo menuntut adanya Cuti Haid tanpa syarat.

Makna cuti haid bagi pendemo ini adalah, mereka menuntut agar wanita yang mendapatkan Haid dapat diberi cuti tanpa syarat. Pasalnya, selama ini yang terjadi wanita diisolasidari sisi kesehatan bekerja.

“Selama ini, Wanita yang kena Haid dikerjakan, padahal itu tidak boleh. Jadi kami lawan. Kami menuntut hak perempuan dan sumber daya alam kota,” kata Kordinator lapangan, Ilen Al-Amin kepada ameksOnline di lokasi  aksi.

Para pendemo yang membahas Bendera merah dan bertuliskan Pembebasan. Mereka juga menuntut cuti hamil, dan melahirkan bagi perempuan. Selain itu, PP 78/2015 harus dicabut.

Penentuan upah minimum Provinsi/Regional (UMP/R) secara otomatis menyesuaikan laju inflasi per tahun. Ini telah menjadi kekuatan berunding serikat buruh di ditingkat pabrik maupun di daerah.

Karena  itu, barisan kelas pekerja, kelompok seniman, perempuan, Agamawan, kaum terpelajar, mahasiswa, pejuang lingkungan dan seluruh elemen rakyat yang tergabung dalam Komitmen mendesak dan menuntut Jokowi untuk meningkatkan kesejahteraan buruh.

“kurangi jam kerja 6 jam/hari, naikan Upah 100 persen, hapuskan sistem kerja kontrak, cabut PP 78/2015 anti perundinga upah, cuti haid tanpa syarat dan cuti hamil dan melahirka selama 14 bulan,” desak dia sambil berteriak demi untuk Kesejahteraan. (NEL)