Gubernur, Pangdam, Kapolda Diminta Hadir 1 Kali 24 Jam

by

Ambon, ameksOnline.-,Aksi bentrok Desa Latu dan Hualoy terus memanas. Aparat kemanan terus berjaga. Namun, terlihat saat ini, arus jalan trans seram telah di beton oleh warga Hualoy. Mereka menuntut, agar Gubernur Maluku, Murad Ismail, Pangdam XVI/Pattimura Ambon, Mayjen Marga Taufiq, Kapolda Maluku, Irjen Royke Lomuwa dan juga Bupati SBB, dan Dandim Masohi hadir di lokasi kejadian.

Jalan trans lintas Seram yang menghubungkan transportasi dari arah Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dan, Masohi Maluku Tengah, menuju dermaga Feri Waipirit-Hunimua, Pulau Ambon dan sebaliknya itu dibeton oleh warga Negeri Hualoy, Minggu, (5/5) pagi tadi.

Pengecoran jalan raya lintas Seram ini dilakukan warga Hualoy, buntut dari pembantaian secara sadis oleh puluhan warga Latu, di hutan Waya, Latu, terhadap warga Hualoy, Syamsul Lussy (38) hingga tewas bersimbah darah di atas aspal jalan lintas Seram.

“Aksi ini dilakukan warga untuk meminta kepada aparat kepolisian dan TNI, agar segera menangkap para pelaku dalam waktu 1 x 24 jam,” ungkap Wahab Lussy kepada Ameks Online, siang ini.

Dalam aksi pengecoran itu, terlihat tripleks berukuran besar dipampang di atas beton dan bertuliskan hadirkan, Gubernur, Kapolda, Pangdam, Bupati dan Dandim Masohi. “Ia warga menuntut demikian. Karena kondisi ini harus diredam, karena sudah terlalu emosional dengan tindakan biadab yang dilakukan oleh pelaku pembantaian adik saya,” ujar dia. Sembari menyebut, 1 kali 24 jam, mereka harus hadir. “Dan berharap pelaku segera ditangkap, dan diproses hukum denga. Tegas,” tandas dia.

Diektahui, seorang warga Desa Hualoy, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat dianiaya hingga tewas, Sabtu (4/5) siang. Dia mengalami luka bacok pada beberapa bagian tubuhnya di perairan perbatasan Desa Latu dan Hualoy.

Syamsul Lussy (38) akhirnya dievakuasi ke rumah sakit Piru, SBB setelah berhasil diselamatkan aparat keamanan dari amukan massa. Siapa mereka, hingga tadi malam belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian.

Awalnya Syamsul bersama isteri dan anaknya dari Lastetu, Desa Kamariang, SBB menumpangi speedboat hendak menuju Hualoy. Jarak Lastetu ke Hualoy tak jauh. Untuk sampai ke Hualoy, bisa melalui jalur darat. Namun karena konflik Hualoy-Latu, jalur darat tidak dilaluinya.

Mereka hendak melaksanakan sahur pertama di Bulan suci Ramadhan. Dalam perjalanan sekira pukul 15.10 Wit, mesin speedboat yang ditumpanginya tiba-tiba mengalami mati mesin. Kerusakan terjadi dekat desa Latu. Saat speedboat itu dalam perbaikan, muncul sejumlah orang dari arah Desa Latu.

Mereka menggunakan parang, dan menghampiri Syamsul. Syamsul yang ketakutan bermohon untuk tidak dianiaya sejumlah orang ini. Namun belas kasih Syamsul tidak direspon. Dihadapan anak dan isterinya, mereka  menganiaya Syamsul.

Disaat hampir bersamaan, sekira pukul 15.25 Wit, Letda Ida anggota BKO TNI yang pos di Tomalehu mendapat telepon dari Kapolsek Amalatu terkait penganiayaan terhadap Syamsul. Mereka langsung menuju hutan Latu lokasi terdamparnya speedboat.

Saat tiba di lokasi kejadian, empat anggota TNI menemukan sejumlah warga yang sedang menganiaya Syamsul. Aparat TNI langsung memerintahkan mundur. Orang-orang itu meninggalkan Syamsul bersimbah darah. Korban dievakuasi ke jalan utama, dan dievakuasi menggunakan truk ke RS Piru, Kota Piru.

Seorang anggota Polres SBB yang dikonfirmasi ameksOnline membenarkan adanya insiden itu. Saat ini aparat keamanan dari TNI dan Polisi sedang melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku. “Masih dalam pengejaran. Kita berharap, masalah ini diserahkan penanganan hukumanya kepada aparat keamanan,” kata dia.

Sementara itu, di perbatasan dua desa aparat keamanan kembali dipertebal. Sebelumnya kondisi dua desa sempat kondusif setelah konflik berkecamuk Maret lalu. Dalam konflik itu, sejumlah orang dari dua desa meninggal dunia. (NEL)