‘Gertak Sambal’ Bahrum Wadjo

by

Ambon, ameksOnline.-Politisi Demokrat, Bahrum Wadjo sempat garang saat rekapitulasi suara pemilu legislatif April lalu. Kini sikapnya mulai melemah. Padahal dia sempat main ancam melapor Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah Seram Bagian Barat.

Dia sempat menuding Ketua KPUD SBT, Kisman main untuk mengamankan suara kakaknya, Noaf Rumauw, caleg PKS. Atas langkah Kisman, Bahrum ancam lapor ke KPUD Maluku, KPU Pusat, dan DKPP. Namun hingga kemarin, langkah pelaporan tak kunjung dilakukan.

Bahrum menduga, sikap Kisman yang mengabaikan keberatan saksi maupun rekomendasi Bawaslu untuk mengamankan suara kakak kandungnya, Noaf Rumauw, caleg PKS dari daerah pemilihan pemilihan III (Gorom, Gorom, Timur, Kesui, Teor dan Watubela, dan Pulau Panjang)

Tak hanya ketua KPU, Bahrum juga menyebutkan dugaan pelanggaran administratif maupun etik yang dilakukan oleh ketua Bawaslu SBT, Rosna Sehwaky. Rosna tidak menindaklanjuti laporan dari Bahrum.

Laporan tersebut terkait dugaan penggelembungan suara secarat terstruktur, sistematis dan masif (TSM) yang dilakukan oleh KPPS di seluruh TPS di desa Kwaos, Kecamatan Siritaun Wida Timur.

Namun, hingga sekarang ia belum juga mengajukan laporannya. Ia hanya ‘menggertak sambal’. “Soal itu belum dilaporkan,” singkat Bahrum kepada media ini via SMS, kemarin.

Pengamat politik Universitas Darussalam (Unidar) Ambon Ali R. Talaohu menilai, jika terbukti benar ada upaya dari ketua Bawaslu untuk pengelembungan suara, maka masyarakat maupun tim pemantau wajib melaporkan ke Bawaslu dan ditembuskan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Langkah ini penting, daripada sekadar mengeluarkan pernyataan ancaman ke publik tanpa melanjutkan dugaan pelanggaran kode etik itu ke lembaga berwenang.

“Dilaporkan saja ke Bawaslu dan DKPP agar yang bersangkutan diproses, dan diberikan sanksi pemberhentian dari Bawaslu karena ini sudah sesuai aturan normatifnya,” jelas Talaohu, Mei lalu.

Seperti diketahui, Firdaus Arey, warga SBT telah melaporkan Rosna Sehwaky ke DKPP pada 31 Mei 2019. Firdaus mengaku, telah mengantongi bukti rekaman percakapan dan dokumen fisik yang terlampir dalam laporan. Bahkan saksi utama, Rahman Ellys juga sudah memberikan keterangan awal.

Pihak DKPP sudah menghubungi Firdaus terkait perkembangan laporannya. Rencananya, hari ini DKPP mengumumkan jadwal sidang perdana atas laporan tersebut

“Berkasnya baru diverifikasi kemarin. Besok (hari ini-red) baru diinfokan jadwal sidang,”kata Firdaus, tadi malam. (WHB)