Soal Repo, Jaksa Periksa OJK Lagi

  • Whatsapp

AMEKS ONLINE, AMBON.—Dugaan korupsi reverse Repo fiktif berjalan lambat. Jaksa beralasan kekurangan tenaga penyidik. Karena itu berbulan-bulan kasus ini tak berjalan. Kemarin, jaksa baru mengagendakan pemeriksan saksi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Pasar Modal.

Reverse Repo Fiktif itu sendiri senilai Rp 238,5 miliar. Transaksinya sejak tahun 2015. Kasus yang melibatkan PT Bank Maluku dan Maluku Utara ini baru ditingkatkan ke tahap penyidikan sejak awal Juni 2017 kemarin.

Read More

Meskipun sudah di tingkatkan ke tahap penyidikan, penyidik setempat belum juga menetapkan tersangkanya. Selain kekurangan tenaga penyidik, kejati beralasan perkara ini rumit.

Beda dengan kasus korupsi lainya.
Karena rumit, kata Kasi Penyidikan (Kasidik) Kejati Maluku, Abdul Hakim, dibutuhkan keterangan ahli dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Di OJK itu kan dua peran, OJK bidang Perbankan, dan OJK Bidang Pasar Modal. OJK bidang Perbankan sudah kita periksa sebagai ahli sebelumnya, ini tinggal OJK bidang Pasar Modal yang telah kita panggil untuk diminta keteranganya dalam bulan ini,” kata Abdul kepada koran ini, Rabu (3/1).

Penjualan surat-surat berharga antara Bank Maluku dan PT Andalan Artha Advisindo (AAA) Securitas oleh PT Bank Maluku periode 2011 hingga Oktober 2014 itu adalah otoritas pasar modal. Karena itu dibutuhkan OJK di bidang teknis untuk menjelaskan lebih detail proses tersebut. “Kita tetap optimis kasus ini dituntaskan. Tidak ada kata kasusnya ditutup ataupun SP3. Kami masih membutuhkan keterangan ahli untuk membantu mencari bukti perbuatan melawan hukum, karena kasus ini beda dengan kasus korupsi lainya,” tandas Abdul.

Pasca ditingkatkan ke tahap penyidikan 1 Juni 2017 lalu, baru 5 orang saksi yang diperiksa. Mereka diantaranya, mantan Direktur Utama PT Bank Maluku, Dirck Soplanit, mantan Direktur Pemasaran, Willem Patty, mantan Direktur Kepatuhan, Izack Thenu, mantan Kadiv Treasury, Edmon Cornelius Martinus, dan analis pada Divisi Treasury, Christian Tomasoa.

Berdasarkan hasil pemeriksaan rutin pada 2014, ditemukan transaksi reverse repo surat berharga sebesar Rp 238,5 miliar di Bank Maluku. Selain itu, OJK menemukan transaksi pembelian reverse repo surat berharga sebesar Rp 146 miliar dan USD 1.250 ribu di Bank Maluku dan Malut. Kedua transaksi itu dilakukan pihak Bank dengan PT. Andalan Artha Advisindo (AAA) Sekuritas yang dipimpin, Andre Rukminto.

Bank Maluku saat itu menerbitkan obligasi sebesar Rp 300 miliar dalam bentuk tiga seri, yakni seri A sebesar Rp 80 miliar yang telah dilunasi pada 2013. Seri B Rp 10 miliar telah dilunasi pada 2015. Seri C sebesar Rp 210 miliar jatuh tempo pada Januari 2017. (NEL)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment

  1. Có rất ít bằng chứng nói lên rằng quảng cáo digital íthấp dẫn hơn quảng cáo TV. Em hiện là SVnăm 4 và em có đang làm đề tài khóa luận về digital marketing.Do tính chất vô danh của tiền kỹ thuật số, nên dù có đào sâu hơn và tìmcác tài khoản đang được khai thác thì cũng rất khó để lộ ra thủ phạm là ai.Các yếu tố này góp phần làm nên giá thành cũng như chất lượng của máy in bạt.In băng rôn hay còn gọi là in hiflex hay in bạt.In Hiflex băng rôn có giá thành in thấp nhấttrong nghành in KTS. Chất liệu Hiflex in trên băng rôn hiện nay đanglà chất liệu phổ biến nhất hiện nay trong nghành in kĩ thuật số quảng cáo ởViệt Nam. In kts giá rẻ có thể kếthợp với các hạng mục khác như: làm bảng hiệu, banner khung sắt, hộpđèn quảng cáo….Quảng cáo, Quảng Cáo kỹ thuật số Sân Bay, Quảng cáo sân bay, Tại đây, Website, Công ty quảngcáo, Dịch vụ quảng cáo sân bay, quangcaokythuatsosanbay.blogspot.com, màn hình tại sân bay, Quảng Cáo kỹ thuật số sân bay Giá Rẻ Chuyên Nghiệp